Candi Borobudur - Ensiklopedia Sejarah Lengkap
Foto Céphas dan Van Kinsbergen menjadi acuan Van Erp (1907–1911) dan UNESCO (1975–1982) untuk merekonstruksi bentuk asli Borobudur
BOROBUDUR
TEMPO DOELOE
Empat puluh tahun pertama monumen Buddha terbesar di dunia di hadapan kamera — melalui lensa Kassian Céphas, Isidore van Kinsbergen, dan Studio Kurkdjian
Borobudur, ±1873 — foto paling terkenal dari era "tempo doeloe": monumen tampak sebagaimana ditemukan abad ke-19, dengan bendera Belanda berkibar di stupa utama — penanda klaim kolonial atas warisan Syailendra. Domain publik.
Sebelum restorasi, sebelum jalur wisata, sebelum UNESCO — Borobudur pertama-tama "diselamatkan" oleh kamera. Antara 1872 dan 1912, tiga nama besar fotografi Hindia Belanda — Kassian Céphas (fotografer pribumi pertama), Isidore van Kinsbergen (perintis dokumentasi arkeologis), dan Studio Kurkdjian (raja kartu pos Surabaya) — merekam monumen ini dalam segala kondisinya: ditumbuhi vegetasi, ditopang perancah, hingga dikunjungi raja asing.
Sepuluh foto arsip dalam artikel ini bukan sekadar nostalgia; ia adalah data konservasi. Foto-foto Céphas dan Van Kinsbergen menjadi acuan Theodoor van Erp (1907–1911) dan tim UNESCO (1975–1982) untuk memahami bentuk asli bagian-bagian candi sebelum dibongkar-pasang.
Kategori "Old photographs of Borobudur" di Wikimedia Commons ternyata kosong. Strategi pencarian yang efektif: gunakan nama fotografer/era — Kassian Céphas Borobudur, van Kinsbergen Borobudur, Kurkdjian Borobudur, atau Borobudur 1900. Seluruh foto artikel ini ditemukan dengan cara itu.
Garis Waktu: Monumen di Hadapan Kamera
Dari penemuan kembali hingga foto-foto arsip yang menyusun artikel ini.
Berkas TIFF KITLV 40183
Buka di Commons ↗Berkas TIFF KITLV 29214
Buka di Commons ↗Berkas TIFF KITLV 40942
Buka di Commons ↗Berkas TIFF KITLV 40226
Buka di Commons ↗Kassian Céphas — Mata Pertama Nusantara
Kassian Céphas (1845–1912) adalah fotografer pribumi pertama Hindia Belanda — juru potret kraton Yogyakarta yang pelat kameranya menjadi saksi paling awal Borobudur di era fotografi. Foto 1872-nya, yang tertua dalam artikel ini, menampilkan monumen sebagaimana adanya saat itu: gundukan raksasa setengah ditelan vegetasi, tanpa pagar, tanpa jalur, tanpa restorasi — sebuah bukit batu yang misterius di tengah pedesaan Kedu.
Seri 1890–1891 lahir dari momentum ilmiah: setelah J.W. IJzerman menemukan kaki candi tersembunyi pada 1885, Céphas dipanggil untuk mendokumentasikan struktur. Foto tangga dan gapura merekam kondisi akses candi sebelum Van Erp: batu-batu aus, sambungan longgar, dan gerbang tingkat yang belum direkonstruksi — detail yang kelak menjadi pembanding utama dalam laporan restorasi 1907–1911.
Foto lorong tingkat dua (±1900) membawa kita masuk ke galeri Rupadhatu: dinding relief yang retak, tanaman merambat di sela batu, dan lantai lorong yang belum diratakan. Ini adalah potret jujur "sebelum" — kondisi yang membuat pemerintah kolonial akhirnya menyadari bahwa monumen ini akan runtuh jika dibiarkan. Tanpa foto ini, sulit membayangkan betapa dramatis perubahan yang dicapai restorasi.
Penutup serinya justru yang paling puitis: sisi barat laut saat senja (1900). Dalam cahaya yang meredup, teras-teras berunduk tampak sebagai siluet berlapis — mengingatkan bahwa di balik nilai arkeologisnya, Borobudur selalu juga sebuah pengalaman spiritual. Céphas, dengan plate kolodion basah yang berat dan rapuh di tengah hutan tropis, memberi kita keempat momen ini — warisan yang tak ternilai.
Van Kinsbergen — Memperkenalkan Relief ke Dunia
Jika Céphas adalah mata Nusantara, maka Isidore van Kinsbergen adalah mata Eropa yang pertama kali membawa Borobudur ke salon-salon seni dunia. Foto ±1873-nya dengan bendera Belanda di stupa utama — hero artikel ini — menjadi gambar definitif monumen selama puluhan tahun, dicetak ulang di buku, jurnal, dan kartu pos.
Namun kontribusi terbesarnya adalah foto relief (±1900, KITLV 90034): bidang ukir yang dipenuhi figur, dipotret dari dekat dengan ketajaman yang memungkinkan para sarjana Eropa untuk pertama kalinya "membaca" narasi Jataka dan Lalitavistara dari jarak jauh. Foto relief semacam inilah yang mengangkat Borobudur dari sekadar reruntuhan eksotis menjadi mahakarya seni rupa dunia.
Van Kinsbergen bekerja dengan teknologi plate basah yang menuntut kecermatan ekstrem: pencahayaan tropis yang keras harus diakali dengan sudut matahari pagi atau sore, dan setiap plate adalah taruhan waktu. Hasilnya — kontras lembut, detail pahatan yang timbul — tetap memukau bahkan dibandingkan fotografi digital, dan menjadi standar dokumentasi relief hingga era UNESCO.
Berkas TIFF KITLV 90034
Buka di Commons ↗Membaca hero: bendera Belanda di stupa utama pada foto ±1873 adalah penanda zamannya — monumen Buddha abad ke-9 "diklaim" sebagai trofi ilmiah kolonial, sebelum kelak dikembalikan menjadi milik Indonesia dan dunia.
Berkas TIFF KITLV 111752
Buka di Commons ↗Berkas TIFF KITLV 28606
Buka di Commons ↗Kurkdjian — Borobudur Menjadi Kartu Pos
Memasuki pergantian abad, Borobudur tidak lagi hanya milik arkeolog — ia menjadi komoditas visual. Studio Kurkdjian dari Surabaya, salah satu studio foto komersial tersohor Hindia Belanda, memproduksi pandangan-pandangan Borobudur dalam format kartu pos yang beredar hingga Eropa. Foto ±1900 "Borobudur in Magelang" menempatkan monumen dalam lanskap karesidenan: gundukan candi di tengah sawah dan pepohonan, dengan gunung-gunung Kedu samar di kejauhan.
Foto ±1912 menunjukkan sisi lain pasar visual itu: detail. Gargoyle — jaladwara, pancuran air berbentuk kepala makara/kala yang menjadi sistem drainase candi — dipotret sebagai objek seni mandiri. Kurkdjian memahami bahwa publik Eropa menginginkan bukan hanya panorama, tetapi juga "potongan keajaiban" yang bisa mereka genggam di meja tulis.
Secara tak sengaja, produksi komersial ini menyelamatkan sejarah: ribuan cetakan Kurkdjian yang tersebar di album-album keluarga kolonial kini menjadi cadangan arsip yang membantu peneliti merekonstruksi kondisi candi sebelum restorasi Van Erp — bukti bahwa bahkan kartu pos pun dapat menjadi dokumen konservasi.
1901 — Raja Chulalongkorn di Teras Buddha
Pada 1901, dalam lawatan keduanya ke Jawa, Raja Chulalongkorn (Rama V) dari Siam — kerajaan Buddha yang tak pernah dijajah Eropa — mengunjungi Borobudur. Foto kompleks dengan rombongan kerajaan ini merekam momen yang sarat makna: seorang raja Buddha Asia Tenggara berziarah ke monumen Buddha terbesar dunia yang saat itu berada di bawah kekuasaan kolonial.
Kunjungan ini menaikkan status Borobudur dari "reruntuhan Hindia Belanda" menjadi pusat ziarah Buddhis internasional. Bagi umat Buddha Siam, teras-teras Borobudur adalah tanah suci yang hidup; kehadiran Rama V menghidupkan kembali fungsi spiritual monumen yang telah padam selama berabad-abad sejak ditinggalkan.
Dari sudut pandang sejarah fotografi, dokumen 1901 ini juga menandai peralihan: dari era plate kaca para perintis (Céphas, Van Kinsbergen) ke era kamera yang lebih ringkas, ketika peristiwa — bukan hanya monumen — mulai direkam. Foto kunjungan ini menjadi jembatan antara Borobudur "tempo doeloe" dan Borobudur modern yang setiap Waisak dipenuhi ribuan peziarah.
Berkas PNG kunjungan 1901
Buka di Commons ↗
Berkas JPG Tropenmuseum
Buka di Commons ↗Tropenmuseum — Arsip yang Menjaga Arsip
Cetakan Tropenmuseum (TMnr 60013970) menutup rangkaian visual artikel ini: pandangan kompleks Borobudur dari koleksi institusi yang mewarisi jutaan dokumen visual Hindia Belanda. Dalam foto ini, monumen tampak sebagai kesatuan lanskap — undakan batu, vegetasi, dan cakrawala Kedu — sebagaimana dilihat pengunjung era kolonial akhir.
Peran Tropenmuseum (kini bagian dari Nationaal Museum van Wereldculturen) krusial: tanpa perawatan negatif dan cetakan selama lebih dari seabad, foto-foto Céphas, Van Kinsbergen, dan Kurkdjian mungkin telah musnah oleh iklim tropis dan perang. Digitalisasi bersama Wikimedia Commons-lah yang akhirnya "memulangkan" arsip-arsip ini ke publik Indonesia dalam bentuk piksel.
Maka berakhirlah perjalanan 1872–1912 ini dengan sebuah ironi yang indah: foto-foto yang dahulu dibuat untuk mengarsipkan jajahan, kini menjadi arsip milik bangsa yang pernah dijajah — bukti visual bahwa Borobudur selalu lebih besar daripada kekuasaan mana pun yang mencoba mengklaimnya.
Mengapa Foto Tempo Doeloe Ini Penting?
Foto Céphas dan Van Kinsbergen menjadi acuan Van Erp (1907–1911) dan UNESCO (1975–1982) untuk merekonstruksi bentuk asli tangga, gapura, dan stupa sebelum dibongkar-pasang.
Plate kolodion basah di hutan tropis, fotografer pribumi pertama, dan industri kartu pos — Borobudur adalah panggung awal fotografi Nusantara.
Dari bendera kolonial di stupa (±1873) hingga ziarah Rama V (1901) dan Warisan Dunia (1991): foto-foto ini merekam perpindahan kepemilikan simbolik monumen.
Artikel ensiklopedia visual ini disusun untuk tujuan edukasi (Agustus 2026).