Penaklukan Palembang oleh Jenderal De Kock 1821 Koleksi Rijksmuseum
Dokumentasi lukisan sejarah karya Louis Meijer (1857) di Rijksmuseum: Penaklukan Palembang oleh luitenant-generaal De Kock pada 24 Juni 1821
💣 Penaklukan Palembang oleh Jenderal De Kock (1821)
Dokumentasi historis lukisan "De overmeestering van Palembang (Sumatra) door luitenant-generaal De Kock" karya Louis Meijer (1857). Menggambarkan jatuhnya benteng Kesultanan Palembang pada 24 Juni 1821.
✏️ Kurasi oleh Tim Sejarah Atechsur.org | Terakhir Diperbarui: 27 Maret 2026 | Berdasarkan Arsip Rijksmuseum
Lukisan berjudul "De overmeestering van Palembang (Sumatra) door luitenant-generaal De Kock, 24 juni 1821" merepresentasikan salah satu konflik militer terbesar di awal abad ke-19 antara pemerintah kolonial Hindia Belanda dan kerajaan lokal Nusantara. Karya seni ini dikerjakan oleh pelukis maritim ternama Johan Hendrik Louis Meijer pada tahun 1857, puluhan tahun setelah pertempuran usai, berdasarkan pesanan langsung dari keluarga De Kock.
Dalam karya cat minyak di atas panel (hout/paneel) ini, Louis Meijer merekonstruksi secara dramatis peperangan sungai di mana kapal-kapal perang Belanda membombardir pertahanan kota. Kesultanan Palembang Darussalam, yang terletak di Sumatera Selatan, saat itu gigih melawan monopoli komersial Belanda dengan dukungan diam-diam dari pihak Inggris. Kegagalan ekspedisi pertama memaksa Belanda mengirim armada yang jauh lebih besar di bawah komando Luitenant-Generaal Hendrik Merkus baron de Kock, yang akhirnya berujung pada jatuhnya keraton (istana) Sultan.
- Ekspedisi Kedua: Peristiwa dalam lukisan ini dikenal sebagai Tweede expeditie naar Palembang. Serangan ini dilakukan setelah upaya penundukan sebelumnya gagal memadamkan perlawanan Sultan Mahmud Badaruddin II.
- Campur Tangan Asing: Konflik ini tidak hanya melibatkan Belanda dan Palembang, tetapi dipengaruhi persaingan geopolitik. Sultan mendapat dukungan dari agen-agen Inggris (seperti Thomas Stamford Raffles di Bencoolen (Bengkulu)) yang enggan melepaskan pengaruhnya pasca Traktat London 1814.
- Kehancuran Kraton: Militer Belanda di bawah Jenderal De Kock mengerahkan kapal layar perang (sailing-ships) dan melakukan bombardemen besar-besaran terhadap pertahanan sungai Musi hingga berhasil menembus dan merebut benteng Kraton.
- Akhir Kesultanan: Kekalahan ini berakibat fatal. Sultan Mahmud Badaruddin II beserta keluarganya ditangkap dan diasingkan, hartanya disita (verbeurd verklaard) sebagai pampasan perang, dan beberapa tahun kemudian Kesultanan Palembang resmi dibubarkan.
Lukisan bergaya historiestuk (lukisan sejarah militer) ini tidak digambar secara langsung (live) di medan pertempuran. Louis Meijer melukis karya ini 36 tahun pasca peristiwa, tepatnya pada tahun 1857.
Untuk memastikan keakuratan topografi sungai Musi, posisi kapal, dan benteng pertahanan keraton, Meijer memanfaatkan sketsa-sketsa dan gambar teknis buatan P. le Comte. Le Comte adalah seorang perwira angkatan laut (zeeofficier) Belanda yang secara langsung ikut serta dalam invasi penaklukan Palembang tahun 1821 tersebut. Oleh karena itu, detail kapal-kapal sloep di garis depan dan meriam-meriam kapal layar besar (bombardement) disajikan dengan realisme maritim yang sangat tinggi.
Sumber: Rijksmuseum (SK-A-1406)
Pakar Lukisan Pemandangan Laut
Johan Hendrik Louis Meijer adalah salah satu pelukis pemandangan laut (zeegezicht) paling terkemuka pada abad ke-19 di Belanda. Selain melukis pertempuran sejarah, ia mahir menangkap dramatisasi alam, seperti lukisannya "Storm in het Nauw van Calais" dan "Schepen op zee bij stormachtig weer".
Keahlian Meijer dalam melukis air, riak gelombang, dan struktur lambung kapal (seperti yang terlihat jelas pada sisa lukisan kapalnya) menjadi alasan mengapa keluarga bangsawan De Kock memercayakan proyek glorifikasi leluhur mereka kepada pelukis ini. Tanda tangan aslinya (eigenhandig gesigneerd) ‘Louis Meyer’ tertulis dengan jelas di sudut kiri bawah panel lukisan Palembang ini.
1. Apa peristiwa yang digambarkan dalam lukisan ini?
Lukisan ini menggambarkan 'Tweede expeditie naar Palembang' (Ekspedisi militer kedua ke Palembang) pada 24 Juni 1821, di mana armada angkatan laut Hindia Belanda di bawah pimpinan Luitenant-Generaal Hendrik Merkus baron de Kock membombardir kraton Kesultanan Palembang.
2. Mengapa Kesultanan Palembang diserang oleh Belanda?
Palembang menolak tunduk pada tekanan politik dan ekonomi Belanda, yang mencoba memonopoli komoditas wilayah tersebut. Perlawanan ini juga ditopang oleh keberadaan agen-agen Inggris yang memprovokasi raja-raja lokal agar tidak menyerah kepada Belanda.
3. Siapa pelukis karya ini dan kapan dibuat?
Karya historis ini dilukis oleh Johan Hendrik Louis Meijer pada tahun 1857. Ia tidak menyaksikan perang itu secara langsung, melainkan bekerja berdasarkan sketsa lapangan milik perwira angkatan laut bernama P. le Comte atas pesanan keluarga De Kock.
Jelajahi jaringan terpercaya situs mitra kami yang mencakup direktori, ensiklopedia, pasar online, edukasi, dan informasi finansial.
- Artikel ensiklopedia ini bertujuan edukatif dan menafsirkan objek seni sebagai peninggalan sejarah kolonial tanpa glorifikasi peperangan.
- Ilustrasi yang digunakan bersumber dari repositori pangkalan data digital Rijksmuseum Amsterdam.
- Karya seni grafis tersebut berstatus Domain Publik (Public Domain/CC0) karena telah melewati batas masa perlindungan hak cipta di seluruh dunia.
Tentang Penulis: Tim Ahli Sejarah Atechsur.org
Tim kurasi Atechsur.org terdiri dari pengamat sejarah Nusantara, spesialis arsip seni, dan kurator edukasi yang berkomitmen menyajikan sejarah kelam masa kolonial melalui perspektif museum historis.
© 2026 – Atechsur.org – Ensiklopedia Lukisan Sejarah Palembang 1821
Koleksi Rijksmuseum • Domain Publik • Diperbarui: 27 Maret 2026