Saudagar Belanda & Pria Diperbudak (1700-1725) Koleksi Rijksmuseum
Dokumentasi lukisan sejarah abad ke-18 di Rijksmuseum: 'Hollandse koopman met twee tot slaaf gemaakte mannen in heuvellandschap',
⛓️ Saudagar Belanda & Pria Diperbudak (1700-1725)
Dokumentasi lukisan sejarah: "Hollandse koopman met twee tot slaaf gemaakte mannen in heuvellandschap" (Saudagar Belanda dengan dua pria yang diperbudak di perbukitan). Sebuah potret nyata sistem perbudakan era VOC.
✏️ Kurasi oleh Tim Sejarah Atechsur.org | Terakhir Diperbarui: 27 Maret 2026 | Berdasarkan Arsip Rijksmuseum
Karya seni ini, yang dikenal dengan judul "Hollandse koopman met twee tot slaaf gemaakte mannen in heuvellandschap", merupakan dokumen visual yang langka dan sangat penting mengenai realitas sosial pada awal abad ke-18 di Oost-Indië (Hindia Timur). Lukisan ini menggambarkan seorang pria Belanda dan seorang wanita Asia berjalan berdampingan di sebuah lanskap pegunungan tropis (kemungkinan di Indonesia atau India).
Bagian paling mencolok dari lukisan ini adalah barisan di belakang mereka: dua pria yang diperbudak dan diborgol (geboeide), dijaga ketat oleh tiga pria Asia bersenjata tombak dan pedang pendek. Lukisan ini dibeli oleh Rijksmuseum pada tahun 2005 untuk menambah literatur visual mengenai slavernij (perbudakan) yang dipraktikkan secara luas oleh pegawai dan saudagar Oost-Indische Compagnie (VOC) di wilayah koloni mereka.
- Mode Pakaian Campuran (Eurasia): Pria Belanda mengenakan jas merah selutut (disebut justaucorps di Eropa) khas awal abad ke-18 dengan kantong yang diposisikan sangat rendah. Sang wanita mengenakan kain tradisional: sarong dan kebaya.
- Hierarki Sepatu: Dalam komposisi rombongan tersebut, hanya pria Belanda (sang majikan) yang mengenakan sepatu (dihiasi gesper perak), sementara yang lainnya, termasuk nyai/istrinya, pengawal, dan para budak, digambarkan bertelanjang kaki. Ini adalah simbol status sosial kolonial.
- Kekerasan Simbolik (Vandalisme Wajah): Jika diperhatikan dengan saksama, wajah pria Belanda dan wanita Asia tersebut telah dirusak—digores keras menggunakan benda tajam membentuk tanda silang (kruis). Hal ini menunjukkan adanya dendam atau usaha menghapus memori atas tokoh tersebut (damnatio memoriae) di masa lalu.
- Identitas Etnis yang Kabur: Dua pria tawanannya digambarkan mengenakan cawat (omslagdoek) dan ikat kepala putih. Kurator museum mencatat bahwa etnis asal para pria tawanan ini sulit diidentifikasi secara pasti, apakah mereka keturunan Afrika atau Asia.
Lukisan ini merupakan bagian penting dari dokumentasi sejarah terkait keberadaan orang-orang tak bebas (tot slaaf gemaakte mannen) pada masa kekuasaan VOC. Tidak seperti perbudakan trans-Atlantik yang berpusat pada pertanian skala besar, perbudakan VOC di Asia (khususnya di ibu kota Batavia, kini Jakarta) seringkali bersifat domestik atau sebagai kuli panggul/bengkel. Namun, perlakuan terhadap mereka tetap diatur dengan sangat ketat dan seringkali brutal.
Kehadiran tiga pria bersenjata (dengan pedang pendek, zwaard, dan tombak) yang berfungsi sebagai penjaga/mandor (bewakers) untuk menjaga hanya dua orang budak yang terborgol, menunjukkan sistem kontrol militeristik yang ketat, serta status kekayaan majikan yang mampu menggaji para pengawal pribadi di wilayah pedalaman (hills/heuvellandschap).
1. Apa yang direpresentasikan dalam lukisan ini?
Lukisan ini memperlihatkan hierarki sosial pada era kolonial VOC (awal abad ke-18), menampilkan seorang pria Belanda (kemungkinan saudagar/pejabat) dan wanita Asia (kemungkinan gundik atau Nyai) berjalan diiringi oleh dua pria yang diperbudak dalam keadaan terikat, serta dikawal oleh tiga pria bersenjata lokal.
2. Apa arti goresan pada wajah pria dan wanita dalam lukisan?
Wajah pria dan wanita utama dalam lukisan tersebut telah dirusak (digores dengan benda tajam membentuk tanda silang/kruis). Alasan historis vandalisme ini tidak diketahui secara pasti, namun tindakan seperti itu sering dikaitkan dengan ketidaksukaan ahli waris atau orang di masa lampau terhadap subjek lukisan (penghapusan ingatan/damnatio memoriae).
3. Siapa pelukis karya ini dan di mana lokasinya?
Nama pembuat karya (pelukis) ini tidak diketahui (anonim). Berdasarkan analisis teknik kanvas dan busana, lukisan ini diyakini dibuat langsung di wilayah Hindia Timur (kemungkinan Indonesia) antara kurun waktu 1700 hingga 1725.
Jelajahi jaringan terpercaya situs mitra kami yang mencakup direktori, ensiklopedia, pasar online, edukasi, dan informasi finansial.
- Artikel ini ditujukan sebagai materi edukasi sejarah, mengungkap potret realitas perbudakan di masa lalu yang terekam dalam karya seni peninggalan kolonial.
- Ilustrasi yang digunakan bersumber dari repositori pangkalan data digital Rijksmuseum Amsterdam. Lukisan ini sering dipinjamkan dan dipamerkan dalam pameran bertema sejarah perbudakan.
- Berkas cetak lukisan tersebut berstatus Domain Publik (Public Domain/CC0) karena batas kepemilikan hak cipta seniman telah berakhir.
Tentang Penulis: Tim Ahli Sejarah Atechsur.org
Tim kurasi Atechsur.org mendedikasikan diri untuk menceritakan ulang sejarah secara faktual melalui objek-objek arsip Eropa, memberikan perspektif berimbang mengenai masa lalu Nusantara.
© 2026 – Atechsur.org – Ensiklopedia Lukisan Perbudakan Kolonial (SK-A-4988)
Koleksi Rijksmuseum • Domain Publik • Diperbarui: 27 Maret 2026